-->

Opini: Adakah Kebijakan Obat Nasional?


Pada awal tahun 1970-an Indonesia membuka kesempatan bagi industri farmasi internasional menanam modal di Indonesia. Mulailah penanam modal asing bidang farmasi berbondong-bondong masuk ke Indonesia.

Kala itu Pemerintah Indonesia menetapkan, setelah 5 tahun beroperasi, industri farmasi asing harus sudah memproduksi bahan baku di Indonesia. Kemudian, dibuka pula kesempatan bagi modal dalam negeri untuk membuka pabrik farmasi.

kebijakan obat nasional
Dalam waktu singkat jumlah merek dan jenis obat jadi di Indonesia meningkat cepat. Salah satu alasan dibiarkannya begitu banyak jenis dan merek obat adalah persaingan mereka di pasar sehingga harga makin murah. Sulit dimengerti bahwa pakar farmasi di Departemen Kesehatan menyamakan perdagangan obat dengan baju, yang semakin banyak merek semakin murah harganya.

Persaingan obat dan baju sangat berbeda. Dalam produk konsumsi, seperti baju, konsumen dapat memilih dan memutuskan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal obat, terutama obat etikal, konsumen sama sekali tidak tahu mana yang harus ia beli, mana yang paling cocok dengan penyakitnya, dan mana yang mutunya lebih baik. Yang menentukan adalah dokter. Konsumen terpaksa membeli, berapa pun harganya. Maka, persaingan terjadi dengan cara membujuk dokter agar meresepkan produk tertentu.

Obat Esensial
Kebijakan pertama seharusnya menetapkan jenis obat apa saja yang secara esensial diperlukan rakyat Indonesia. Di luar jenis itu, seharusnya ijin memproduksi dan mengedarkannya dipersulit. Di situlah perlunya pemerintah menyusun Daftar Obat Esensial (DOE) tanpa menentukan merek dagang yang akan beredar asal mutunya memenuhi syarat. DOE selanjutnya menjadi pedoman bagi rumah sakit pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk pengadaan obat. Dengan demikian, ada efisiensi penggunaan dan pemantauan rezim terapi.

Banyaknya jenis obat yang beredar saat ini membuat persaingan tidak sehat dan berdampak pada kekacauan dalam menentukan terapi yang efektif dan efisien. Jenis yang sangat banyak dan merek dagang yang juga sangat banyak ini akibat mudahnya pemerintah memberi izin (terutama lokal) untuk membuka pabrik obat. Banyak yang sebenarnya tidak profesional dan bahkan tidak berlatar belakang membuat obat.

Sebagian besar dari mereka hanya menjadi perakit obat dengan hanya bermodal membeli mesin dan bahan pembuat obat. Bandingkan, misalnya, dengan Bayer atau Hoechst (dulu) yang bermula dari pabrik kimia dan kemudian melalui penelitian dapat menemukan bahan berkhasiat obat.

Akibat perizinan yang begitu lunak—tanpa melihat jangka panjang—industri farmasi lokal berkembang sangat cepat. Padahal, pangsa pasar sangat kecil. Mereka kemudian hanya memproduksi obat-obat ”latah” (meniru). Ini pula yang membuat merek dagang untuk jenis yang sama menjadi sangat besar.
Untuk memenangi pasar, mereka berusaha mendapat izin edar lebih dulu dari pesaing— yang membuka peluang korupsi—dan berikutnya membujuk dokter.

Kebijakan Harga
Para pejabat di Depkes dulu berprinsip biar pasar yang mengatur harga obat. Depkes hanya mengatur kapan pabrik obat boleh menaikkan harga produk. Akan tetapi, seperti telah disebut, pasar obat berbeda jauh dengan pasar produk lain.

Ketentuan ini lagi-lagi menjadi peluang untuk korupsi. Karena tidak ada kebijakan yang terarah, industri farmasi lokal yang hanya menjadi perakit obat bebas menentukan harga produk. Pada umumnya mereka menetapkan harga mendekati harga yang ditentukan industri penemu untuk mengesankan bahwa mutu mereka tidak berbeda dengan produk orisinal tersebut. Padahal, industri lokal tidak pernah melakukan riset awal.

Tidak selayaknya mereka dibebaskan menentukan harga produk mendekati harga produk orisinal. Pemerintah seharusnya menetapkan bahwa harga obat tiruan maksimal 60-70 persen dari harga obat orisinal karena tidak ada beban biaya riset. Bahkan bahan bakunya pun dibeli dari pasar di luar penemu awal, misalnya dari India, Hongaria, dan China, dengan harga jauh lebih murah daripada harga di negara penemu awal.

Bahan baku tersebut secara bebas dapat diproduksi oleh negara lain setelah masa perlindungan patennya habis. Jadi, sebenarnya yang dibuat industri lokal bukanlah obat paten, melainkan obat generik yang diberi merek dagang tersendiri.

Seandainya pemerintah tegas dalam menentukan batas harga obat tiruan atau generik bermerek tersebut, harga obat tidak seenaknya ditetapkan oleh industri nasional dengan keuntungan sangat besar.

Bahan Pembuat Obat
Setelah lima tahun pertama, tidak satu pun industri farmasi memproduksi bahan baku di sini dan pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Alasannya sederhana saja, selain fasilitas dan kemampuan riset obat di Indonesia sangat lemah, pangsa pasar bahan baku obat di Indonesia sangat kecil sehingga tidak ekonomis untuk berproduksi di sini.

Pemerintah waktu itu mungkin berpikir bahwa membuat obat seperti membuat kerupuk. Bahan bakunya cukup tepung dan garam. Jadi, ketika kita mensyaratkan agar industri farmasi membuat bahan baku obat di Indonesia, tidak terpikirkan bahwa bahan baku obat memerlukan dukungan industri hulu yang sesuai serta riset yang lama dan mahal.

Bahkan banyak industri farmasi dunia bergabung karena biaya riset semakin mahal dan persyaratan riset obat semakin ketat. Kalau hanya membuat bahan baku yang mudah diperoleh di pasar internasional, mengapa pula harus repot membuat sendiri di Indonesia yang pangsa pasarnya masih sangat kecil. Jumlah penduduk Indonesia memang besar, tetapi konsumsi obat per tahun dan per kapita masih sangat kecil.

Sampai sekarang tidak ada kebijakan pemerintah untuk mengembangkan industri hulu bagi produk obat. Jangankan bahan baku obat, untuk bahan pembantu saja pengembangannya tidak dipikirkan. Obat tidak hanya terdiri dari bahan baku zat aktif, tetapi diperlukan juga pencampur yang memenuhi syarat. Bahan bantu itu, antara lain, tepung khusus, gula khusus, perekat, dan kapsul, yang sampai sekarang tidak terpikirkan oleh pemerintah.

Produksi bahan bantu tidaklah sesulit membuat bahan baku aktif dan mempunyai peluang diekspor ke negara lain. Selama ini hampir 90 persen bahan pembuat obat (bahan aktif dan bahan bantu) diimpor. Industri dalam negeri hanya merakitnya menjadi obat jadi.

Selama kita tidak memikirkan masalah ini, Indonesia akan terus sebatas menjadi negara perakit obat yang tidak akan pernah mandiri. Harga obat pun akan terus menjadi beban bagi rakyat dan negara. (kompas,com)

Penulis: Kartono Mohamad, Mantan Ketua Umum PB IDI

Related Post:
- Opini : Mengapa Harga Obat di Indonesia 'Berbeda'?

Farmasi Indonesia Memasuki Era Low Price-Low Profit yang Rawan

Sebuah Pandangan Umum Anthony Ch Sunarjo
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia

farmasi nasional
Melihat pertumbuhan yang baik di sektor farmasi belakangan ini merupakan prestasi yang patut disyukuri. Sebagian besar perusahaan farmasi menikmati iklim perekonomian yang cukup kondusif. Pasar tumbuh semakin baik dengan meningkatnya daya beli masyarakat secara umum. Bahkan, saya mendapat laporan bahwa dalam tiga bulan terakhir pasar farmasi domestik tumbuh mencapai 14-15%.
.

"2011: Tahun yang menantang bagi industri farmasi nasional"


Sebelum saya menjadi anggota legislatif pada tahun 2004-2009, saat itu saya melihat dengan pandangan horisontal, sama dengan rekan-rekan dalam posisi sebagai pebisnis yang terhimpun dalam asosiasi yaitu Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia.

Tetapi sepanjang tahun 2004-2009, saya mulai melihat melalui bingkai yang besar dan memandang situasi dan perkembangan di sektor kesehatan, dalam kepentingan banyak pihak, baik dari sisi legislatif, eksekutif dan yudikatif. Saya melihat upaya-upaya pemerintah dalam setiap departemen, hubungan antar departemen, melihat bagaimana hubungan pusat dengan daerah, dan mengkaitkannya dengan sektor kesehatan dan farmasi, meskipun sebagian besar dalam bingkai besar (makro).

Ini yang akhirnya membuat lebih kompleks bagaimana memandang dan menyikapi perkembangan situasi di sektor kesehatan khususnya farmasi. Meski saat ini (2011), saya tidak lagi sebagai anggota legislatif, tapi masih membantu dewan perwakilan daerah dalam lembaga yang disebut Budget Office, suatu institusi yang mendukung legislatif untuk melakukan kajian-kajian ekonomi keuangan.

Dari situ saya bisa melihat bagaimana upaya pemerintah memperjuangkan kepentingan masyarakat. Salah satu contoh yang cukup banyak orang menyimak, adalah pada waktu Obama berupaya meng-goal-kan undang-undang kesehatan di AS. Pada saat itu sebanyak 34 anggota legislatif berasal dari Parta Demokrat sendiri tidak memihak pada undang-undang itu sebelumnya. Bukannya dari Partai Republik (yang sepenuhnya memang tidak memihak undang-undang itu).

Tetapi begitu muncul kajian dari budget office-nya Kongres yang menyatakan bahwa dalam tempo 10 tahun itu jika undang-undang kesehatan ini dilaksanakan akan terjadi penghematan kurang lebih US$ 9 milyar. Kajian budget office itu diumumkan pada saat terakhir, seminggu sebelum pengambilan keputusan. Hasilnya dari 34 anggota DPR dan Senator dari Partai Demokrat yang menolak itu, sebanyak 32 suara berbalik mendukung undang-undang itu. Dan ketika dilakukan pemungutan suara Obama menang 1 suara.

Jadi ini adalah pandangan pemerintah di area legislatif dalam memperjuangkan kemakmuran masyarakat, dalam kajian-kajian dan analisa makro ekonomi untuk menyeimbangkan anggaran belanja pemerintah. Sekarang ini di Indonesia sedang muncul kebangkitan nasional. Kalau beberapa tahun lalu banyak perusahaan dalam negeri diambil alih oleh perusahaan perusahaan asing, sekarang ada tren perusahaan lokal mengambil alih kembali.

Dalam konteks kebangkitan nasional ini juga kita bisa melihat saat Komisi IV menolak keras keinginan Kementerian Kesehatan, membuka kepemilikan saham asing hingga 100% terhadap perusahaan farmasi lokal. Dari sini kita juga melihat perkembangan bahwa setiap rencana kebijakan pemerintah akan selalu dikonsultasikan dengan wakil rakyat.

Sebagai Ketua Umum GP Farmasi, tentu saya akan berbicara dalam konteks kepentingan anggota. Dan menjadi yang terdepan untuk menyatakan bahwa harga produk obat di Indonesia tidak mahal. Dengan demikian sebenarnya saya melihat dari beberapa sudut pandang, di sisi lain harus memperjuangkan kepentingan komunitas usaha farmasi, tapi saya juga harus melihat secara makro bahkan secara pribadi merasa bahwa biaya kesehatan makin lama makin mahal. Dari sudut kepentingan inilah, saat ini keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil semakin menguat.

Ini kenyataan yang dihadapi oleh Indonesia, dan akan mewarnai perkembangan kebijakan pemerintah di sektor farmasi kedepan hingga tahun 2014, yang perlu menjadi perhatian utama kita. Karena sebagian besar merupakan tantangan yang akan dihadapi industri farmasi dalam waktu dekat.

Yang menjadi perhatian khusus saya, adalah perkembang-an regulasi sektor industri farmasi sekarang. Karena cepat atau lambat, suka atau tidak suka kebijakan tentang pelaksanaan GMP yang tidak dapat ditunda lagi, meskipun terjadi tarik menarik dari berbagai kelompok, industri yang besar setuju, sementara industri yang menengah kecil merasa berat.

Sehingga seringkali industri farmasi yang kecil-kecil seperti di Bandung, Semarang, Surabaya ini merasa GP Farmasi Pusat ini, terutama Komite Bidang Industri hanya memihak pada kepentingan sendiri. Selain GMP, kedepan kita dihadapkan dengan agenda dari BPOM yakni PIC/S (The Pharmaceutical Inspection Convention and Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme). Benar dikatakan bahwa regulasi PIC/S itu terkait dengan kepentingan BPOM. Jadi yang diperiksa adalah kualitas dan kompetensi dari inspektor yakni BPOM. Sebagai inspektor harus memenuhi syarat untuk memeriksa pabrik. Bukan pada sumber daya manusianya tetapi pada hasil pemeriksaan pada industrinya, yang pada akhirnya berdampak pada industri.

Pada awalnya BPOM akan mengajukan beberapa industri untuk diperiksa. tentu akan dipilih pabrik yanng telah memenuhi syarat GMP. Tetapi pada periode berikutnya, tim inspeksi PIC/S akan melakukan pemeriksaan secara random. Jika saat itu ditemukan sejumlah industri tidak memenuhi syarat maka status dari PIC/S itu akan gugur. Jadi kepentingan BPOM mendorong industri farmasi di semua level, mutlak mematuhi persyaratan GMP itu.

Tantangan lain bagi industri farmasi Indonesia adalah kebijakan asuransi kesehatan nasional yang akan meng-cover seluruh masyarakat Indonesia. Kalau asuransi berlaku maka kita akan memasuki era yang disebut 'low price low profit', artinya penetapan harga obat itu akan menggunakan cara yang sangat sederhana. Dan yang pasti itu akan membatasi margin keuntungan. Ambil contoh, kalau kita mengikutsertakan obat kita pada asuransi itu, misalnya dengan memotong sebesar 60%, kira-kira sebesar itu harga jual obatnya dalam daftar obat asuransi kesehatan nasional. Konsekuensinya adalah kita harus melipat gandakan penjualan agar bisa mengejar harga.
.


"Masalahnya adalah bahwa pada awal berjalannya asuransi, daftar harga itu sudah berlaku. Tetapi penjualan obat sesuai penulisan resep akan mengikuti perkembangan jangkauan dari layanan asuransi itu sendiri yang tentu membutuhkan tahapan dan waktu yang tidak singkat."


Selisih periode waktu ini bisa menjadi sangat rawan. Sementara harga sudah turun, tetapi volume penjualan tidak beranjak naik, bahkan bisa tidak tumbuh sama sekali. Nah, kalau perkembangan coverage layanan asuransi itu memakan waktu terlalu lama, bisa dipastikan industri tidak akan mampu bertahan, dan colapse.

Jadi itu menurut saya sebagian dari tantangan di sektor industri dalam waktu dekat, yang perlu diwaspadai.

Kalau kita melihat peluang, tentu saat ini lebih baik, karena kebutuhan makin besar, jumlah penduduk makin bertambah, ekonomi tumbuh semakin baik. Dua tiga bulan terakhir di 2011 ini kita merasakan omset farmasi ini meningkat signifikan. Pasar farmasi domestik tumbuh hingga 14-15%, sementara ekonomi tumbuh 5,5% setiap tahunnya.(erw)

Mengamati Pertumbuhan Pasar Hepatitis C

pasar hepatitis cSEBUAH PANDANGAN GLOBAL

Hepatitis C adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus darah bawaan dikenal sebagai Hepatitis C Virus (HCV) yang terbukti paling sulit untuk disembuhkan. Mereka yang terkena penyakit merepotkan ini hanya memiliki fragmen dari probabilitas untuk sepenuhnya pulih dan sisanya akan menjadi penderita kronis.

Virus Hepatitis C terbungkus untai tunggal dan positif-sense RNA virus yang menginfeksi sel-sel hati menyebabkan peradangan berat hati dan akhirnya mengarah ke arah gagal hati.

Silakan klik disini untuk melanjutkan

Pada tahun 2008, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa sekitar 170 juta orang di dunia telah terinfeksi HCV. Ini merupakan 3% dari populasi global dengan tambahan 3-4 juta kasus baru yang terdeteksi setiap tahun.

Saat ini, ada enam tipe gen (genotipe) yang berbeda dan lebih dari 100 subtipe dari virus yang telah diidentifikasi. Namun tiga HCV yang paling umum yang banyak menyebar di dunia adalah tipe gen 1, 2 dan 3. Tipe gen 1 adalah yang paling sulit untuk diobati, hanya memiliki tingkat keberhasilan 40-50% dengan rencana perawatan standar, sedangkan genotipe 2 dan 3 memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi 60-90% dengan perlakuan yang sama.

Pengguna obat intravena mempengaruhi prevalensi Hepatitis C
Ada berbagai metode di mana seseorang dapat terinfeksi oleh Hepatitis C. Sebagian besar pasien Hepatitis C di Indonesia telah terinfeksi melalui penggunaan jarum di antara pengguna narkoba suntikan (IVDU). AS Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (The US Center of Disease Control and Prevention) bersama yang itu adalah sifat umum di antara IVDU bahwa 50 - 90% dari pasien yang didiagnosis dengan HIV juga menderita dari HCV.

Kementerian Kesehatan memperkirakan bahwa terdapat 500 ribu orang terinfeksi HIV pada 2010 dan diperkirakan mencapai 1 juta orang pada 2011, jika penanggulangan ketat tidak segera diambil. Meskipun tidak mutlak bahwa penderitaan IVDU dari HIV juga akan terinfeksi dengan HCV, tetapi kemungkinan kasus itu akan mempengaruhi kenaikan tingkat prevalensi Hepatitis C di Indonesia.

Angka prevalensi Hepatitis C di Indonesia diperkirakan meningkat pada tingkat pertumbuhan gabungan tahunan (CAGR) sebesar 7,0% pada 2009-2016. Peningkatan jumlah pasien Hepatitis C disebabkan oleh keberhasilan dalam skrining darah secara teratur yang dilakukan oleh lembaga kesehatan setempat untuk pasien yang resiko tinggi tertular HCV.

Solusi Pemerintah
Solusi pemerintah terhadap biaya tinggi pengobatan Hepatitis C untuk warga tidak mampu dan pegawai sipil di Indonesia.

Umumnya, pasien Hepatitis C akut tidak akan dirawat oleh dokter, seperti pada 70 - 80% dari pasien assymptomatic, atau yang mereka ditemukan memiliki gejala ringan seperti flu dalam 6 bulan pertama setelah terinfeksi. Sebagai penderita Hepatitis C akut terus menunjukkan gejala setelah 6 bulan, mereka diklasifikasikan sebagai pasien hepatitis C kronis. 
Biaya pengobatan Hepatitis C kronis dengan pegylated inteferon relatif mahal. Setiap bulan, pasien Hepatitis C kronis di Indonesia dikenakan biaya antara USD 700 - 1.000 dan mayoritas orang Indonesia yang tinggal di daerah miskin tidak dapat membayar perawatan yang tepat dari rumah sakit.

Rencana subsidi pasien yang tercakup dalam 'Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) akan diganti untuk pengobatan Hepatitis C. Jamkesmas yang telah diperkenalkan pada tahun 2008 oleh pemerintah Indonesia merupakan cara untuk mengurangi biaya pengobatan. Sebuah perkiraan sebesar USD 420.000 disalurkan ke dalam rencana subsidi untuk membantu biaya rumah sakit dan pengobatan bagi masyarakat miskin.

Pada tahun berikutnya (2009), Kementerian Kesehatan Indonesia telah berencana meningkatkan jumlah sebesar US$1,8 juta dengan harapan semua pemegang polis Jamkesmas menikmati manfaat pengobatan gratis pada Kelas 3 di rumah sakit dalam negeri.

Di sisi lain, PNS di Indonesia tidak termasuk dalam Jamkesmas, oleh karena cakupan kesehatan mereka telah sepenuhnya disubsidi langsung oleh pemerintah dan panel rumah sakit.

Kasus-kasus baru pasien Hepatitis C di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada CAGR sebesar 2,9% 2009-2016. Pertumbuhan pasien yang didiagnosis per tahun sebagian besar didorong oleh meningkatnya kesadaran di antara para penyedia layanan kesehatan termasuk otoritas dan perluasan laboratorium baru di rumah sakit yang menawarkan tes skrining untuk HCV.

Pasien berisiko tertular HCV melalui transfusi darah, dialisis dan mereka yang IVDU di masa lalu akan memiliki kesempatan untuk dapat didiagnosis dan diobati lebih awal jika mereka terinfeksi.

Kombinasi perlakuan meningkatkan efektivitas dan pangsa pasar Hepatitis C adalah suatu kondisi dengan keberhasilan pengobatan minimal berdasarkan rencana pengobatan yang tersedia saat ini. Hanya sekitar 20% pasien sembuh sepenuhnya dan perawatan seringkali memiliki efek samping berat. Namun, dokter memberi saran kepada pasien mereka untuk beralih dari monotheraphy dari interferon untuk pengobatan kombinasi dari kedua suntikan interferon dan ribavirin obat oral untuk mencapai hasil yang optimal.

Terapi kombinasi itu telah menunjukkan pencapaian respon pertahanan (sustained virological response) yang lebih baik  bertahan (SVR) setelah pasien selesai pengobatan. Terapi kombinasi seharusnya untuk meningkatkan kemungkinan pasien mencapai pemulihan penuh, terutama pada pasien dengan geno-tipe 2 dan 3 hepatitis C kronis. Ini suatu keberanian yang telah mendorong banyak pasien hepatitis C kronis untuk mencari diagnosis dan pengobatan.

Rasa takut pada injeksi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keengganan pasien untuk menerima pengobatan. Sebelumnya pengobatan menggunakan non-pegylated interferon memerlukan suntikan tiga kali dalam seminggu untuk mempertahankan tingkat keberhasilan.

Namun, dengan pegylated interferon, pasien hanya mendapat suntikan sekali seminggu. Obat baru membantu meningkatkan kepatuhan pasien untuk mendapatkan perawatan.

Human Genome Sciences dan Novartis AG telah mengembangkan Albumin interferon alfa-2b, dengan merek Albuferon sebuah obat Hepatitis C baru yang diharapkan dapat diluncurkan di Indonesia pada 2013. Albuferon adalah suntikan berbasis biologis dengan khasiat yang lebih baik untuk disuntikkan sekali setiap dua minggu. Peluncuran obat baru ini terikat untuk meningkatkan kepatuhan pasien karena dibandingkan dengan pilihan pengobatan yang tersedia saat ini.

Antivirus Oral, Generasi selanjutnya untuk mengatasi Hepatitis C
Obat antivirus oral seperti boceprevir dan telaprevir telah diidentifikasi oleh dokter di lapangan sebagai obat revolusioner generasi berikutnya yang sangat mampu meningkatkan kepatuhan pasien. Kedua obat yang rencananya akan diluncurkan di Indonesia pada tahun 2015 dan diproduksi oleh Schering-Plough Corporation (boceprevir) dan Vertex Pharmaceuticals Incorporated (telaprevir).

Kedua obat baru telah diharapkan memiliki efek samping ringan pada pasien. Bandingkan dengan generasi-generasi baru obat oral yang memiliki efek samping lebih ringan, pengobatan gabungan interferon dan ribavirin masih memiliki efek samping yang berat seperti anoreksia, kelelahan, mual, depresi, gejala mirip flu, dan anemia hemolitik.

Produsen obat-obatan yang mampu mengembangkan terapi obat oral berdasarkan dengan sedikit atau tanpa efek samping dan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi akan dapat meraih pangsa pasar yang lebih tinggi di Indonesia.

Kesimpulan
Dengan hanya 10% dari 7 juta pasien Hepatitis C yang telah didiagnosis pada tahun 2009, Indonesia menawarkan potensi pasar besar bagi produsen farmasi yang mampu mengembangkan pengobatan biologis dengan pemberian oral dan efek samping yang lebih rendah.

Sektor swasta dan publik perlu bekerja sama untuk meningkatkan tingkat didiagnosis pasien dalam negeri. Perusahaan-perusahaan swasta harus lebih proaktif untuk mendukung kampanye nasional skrining HCV. PT Roche Indonesia telah menjadi salah satu pendukung aktif kampanye tersebut dan telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia untuk melaksanakan surveilans nasional pada hepatitis C sejak tahun 2007.

Akses terapi saat ini untuk pasien hepatitis C belum mencapai tingkat keberhasilan 100%. Peneliti klinis terus berupaya mengembangkan obat yang lebih baru yang memiliki efek samping yang lebih rendah, keberhasilan yang lebih baik dan tersedia dengan harga yang terjangkau.(*)

This article was authored by Jennifer Lau, Industry Analyst, Healthcare Practice, Asia Pacific, Frost & Sullivan.

Japan: More Pressures for Global Economy Uncertainty (2)

Ekuitas Pasar Jepang
Pada 14 Maret, hari pertama perdagangan sejak bencana melanda, pasar saham Jepang turun 6,2%. Sebuah awal sell-offs setelah terjadinya bencana alam adalah pola sejarah umum di pasar modal, seperti ketidakpastian dapat menyebabkan beberapa penjualan jangka pendek sementara investor menilai kembali pandangan itu.

ekonomi jepangNamun, sell-offs juga membuat ekuitas Jepang lebih murah, yang menggarisbawahi perbedaan penting antara sekarang dan pasca-gempa bumi Kobe pada tahun 1995. Tingkat penilaian rata-rata saham Jepang hari ini adalah diperkira-kan setengah tingkat penilaian 15 tahun yang lalu, diukur di kedua basis price-to-book atau price-to-earnings.

Potensi Dampak Global
Jepang merupakan perekonomian ketiga terbesar di dunia, selain menjadi link yang signifikan dalam rantai pasokan manufaktur global. Akibatnya, hilangnya output di Jepang dan gangguan terhadap produksi industri pasti akan memiliki dampak negatif jangka pendek terhadap ekonomi global. Pada saat yang sama, Jepang tidak dianggap sebagai pendorong utama dari ekspektasi saat ini dalam situasi yang padat dengan pertumbuhan global di tahun 2011.

Mayoritas pertumbuhan global diharapkan datang dari Negara berkembang dan Amerika Serikat, dengan Jepang mencatat sekitar 0,1% dari 4,2% pertumbuhan riil PDB global yang diperkirakan oleh Dana Moneter Internasional. Akibatnya, penurunan sementara dalam output Jepang kemungkin-an tidak akan memunculkan sumbatan bagi ekspansi ekonomi global.

Dampak potensial lainnya dari krisis Jepang adalah energi dunia dan pasar komoditas lainnya. Dalam waktu dekat, penurunan dalam output ekonomi Jepang kemungkinan akan mengakibatkan permintaan minyak mentah yang lebih rendah, sebagaimana Jepang adalah importir minyak terbesar ketiga di dunia.

Di sisi lain, jika pembangkit listrik tenaga nuklir yang rusak tetap off-line, Jepang akan harus membuat output listrik dengan bahan bakar fosil, seperti gas alam. Pembangunan kembali infrastruktur Jepang mungkin akan menghasilkan aktivitas komoditi-intensif lebih dari yang diharapkan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan minyak mentah dan sumber daya alam lainnya.

Pada 14 Maret, pasar saham di Asia dan sebagian besar seluruh dunia menurun, namun sebagian besar kerugian (di luar Jepang sendiri) relatif sederhana. Sementara ada beberapa spekulasi bahwa investor Jepang menjual obligasi US Treasury untuk meng-kembalikan keuntungan ke Jepang, imbal hasil obligasi jangka panjang di Amerika Serikat telah ditolak pada 14 Maret. Namun, mengingat dana rekonstruksi yang berpotensi signifikan bagi Jepang, setiap penurunan permintaan luar negeri untuk aset AS mungkin menaikkan prospek gejolak yang lebih tinggi pada tarif US Treasury.

Dampak dari bencana Jepang tidak hanya berdampak pada domestik Jepang tetapi cukup untuk menggagalkan ekonomi global. Bahkan lebih merupakan salah satu sumber ketidak-pastian bagi pasar dunia khususnya sektor keuangan. Dengan pasar yang sudah gelisah karena kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara dan kenaikan harga minyak mentah, perkembangan ini menyela satu sumber gejolak pada prospek harga aset mendatang.

Perkembangan di Jepang tetap sangat cair dan dampak mereka akan sangat bergantung pada bagaimana terbukanya faktor kunci, termasuk nasib reaktor nuklir, dan kerusakan utama pada ekonomi Jepang sekaligus kepercayaan dunia internasional.

Kendati demikian, masih terlalu dini untuk memprediksi setiap tren yang akan terjadi kedepan.

Japan: More Pressures for Global Economy Uncertainty (1)

TRAGEDI DI JEPANG 11 MARET 2011

Dampak dari bencana di Jepang tidak hanya terjadi pada lingkup domestik mereka, tetapi potensinya mampu untuk menggagalkan ekonomi global.

ekonomi jepangBahkan lebih merupakan salah satu sumber ketidakpastian bagi pasar dunia khususnya sektor keuangan. Dengan situasi pasar yang sudah gelisah karena kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara ditambah kenaikan harga minyak mentah, akan mempengaruhi biaya-biaya operasional perusahan farmasi seluruh dunia.

Pemerintah Jepang mengestimasi kerusakan terjadi mencapai 25 Triliun Yen (US$ 309 Miliar). Nilai itu hampir mencapai setengah dari PDB Indonesia tahun 2010 yang tercatat sebesar Rp 6.422,9 Triliun

Menurut beberapa laporan awal, industri farmasi di Jepang tidak mengalami kerusakan besar setelah gempa bumi dan tsunami.

Beberapa farmasi yang telah memberi kabar anata lain; Novo Nordisk perusa-haan farmasi asal Denmark menegaskan pabriknya mengalami kerusakan, dan akan menilai operasi pasokan. Pabrik Novo Nordisk berlokasi di Koriyama, 60 km dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang meledak. Tetapi sebagian besar staf perusahaannya berlokasi di Tokyo. Semua karyawan yang bekerja di sini telah dipertanggungjawabkan.

Eisai melaporkan beberapa kerusakan fasilitas di Tokyo dan pandangan yang positif bagi pekerjannya. Tapi itu masih berusaha mencatat sekitar 50 orang di kantor cabang yang dekat dengan pusat gempa.

Sementara, menurut Dow Jones, Takeda Pharmaceutical, dengan pabriknya di Tokyo, Osaka dan Hikari, dilaporkan tidak ada kerusakan fasilitas yang besar tetapi masih terus memeriksa kondisi pabrik dan tenaga kerjanya. Daiichi Sankyo mengatakan karyawannya dalam situasi aman, hal yang sama dilaporkan oleh Merck yang mengkonfirmasi bahwa karyawannya di Tokyo, Shiga dan Menuma aman dan perusahaan mengharapkan untuk melanjutkan operasi secara normal pada hari Senin.

Johnson & Johnson telah memperhitungkan sebagian besar karyawannya di negara ini. Fasilitas produksi farmasi di Jepang diharapkan dapat kembali beroperasi dalam waktu dekat.

Kendati demikian dikatakan untuk jalur distribusi "akan dikompromikan" karena kerusakan yang luas terjadi pada infrastruktur transportasi. Kerusakan itu juga berdampak pada kehadiran karyawan. Di lain sisi keterbatasan pasokan listrik akibat kerusakan parah pada fasilitas pembangkit nuklir, menimbulkan risiko lain.

Dampak Potensial Bencana pada Ekonomi Jepang
Gempa bumi yang berlanjut dengan tsunami ini secara tragis telah menyebabkan gangguan signifikan pada aktivitas ekonomi Jepang. Di wilayah yang paling terkena dampak bencana, transportasi dan produksi tidak dapat dilakukan sehingga menyebabkan rantai pasokan meng-alami kesulitan. Kerusakan fasilitas tenaga listrik, termasuk dua pembangkit nuklir, telah menciptakan kekurangan daya dan memberi konsekuensi yang kompleks ke seluruh negeri.

Dengan situasi ekonomi Jepang yang telah melambat dalam beberapa bulan terakhir, bencana alam itu memberi kontribusi terhadap melemahnya ekonomi Jepang secara signifikan dalam waktu dekat.

Sebuah analisis mengatakan, bencana alam di negara maju biasanya dimasukkan ke dalam serangkaian kebijakan dan tindakan lainnya yang mulai menciptakan counter-effect positif. Secara khusus, penurunan aktivitas produksi dan konsumsi sering memberikan cara untuk mengambil inisiatif ekonomi yang didorong oleh upaya pemulihan permodalan yang rusak.

Secara historis, belanja pemerintah, stimulus moneter, dan pembayaran asuransi meletakkan dasar bagi tahap rekonstruksi, di mana lingkungan bisnis dan rumah tangga membangun kembali infrastruktur yang rusak. Sebagai contoh, setelah gempa daerah Kobe pada tahun 1995, produksi industri Jepang turun sebesar 2,6% selama bulan gempa tetapi kembali pulih pada dua bulan kemudian.

Ada banyak perbedaan antara gempa Kobe dan saat ini dalam hal kerusakan yang ditimbulkan dan dampak lingkungan ekonomi secara keseluruhan, namun pola sejarah secara umum penurunan aktivitas mendadak selalu diikuti dengan rekonstruksi untuk pemulihan dari bencana sebagaimana dilakukan pula di berbagai negara maju.

Meskipun suku bunga mendekati nol dan situasi bencana keuangan, Jepang masih mempertahankan motivasi dan mengambil langkah-langkah tambahan untuk mengatasi situasi yang mendesak guna memacu tahap rekonstruksi. Sebagai contoh, bank sentral Jepang mengumumkan ekspansi ¥ 10 miliar untuk program akselerasi kuantitatif mereka, termasuk pembelian aset berisiko, seperti surat REIT Jepang.

Hal ini juga memberikan tingkat likuiditas yang luar biasa ekstra untuk sistem keuangan domestik pada 14 Maret. Di samping itu, meskipun defisit 2011 sangat tinggi dan utang pemerintah debt-to-GDP pada tingkat yang mengejutkan di atas 200%, namun stimulus fiskal lebih lanjut masih mungkin dilakukan.

Jepang terus menikmati pembiayaan dalam negeri hampir sepenuhnya dari utang publik, dan ada bukti awal bahwa beberapa investor Jepang dan institusi keuangan menjual aset luar negeri dan dipulangkan kembali ke Jepang dalam beberapa hari ini, membuat potensi dana tambahan untuk rekonstruksi. Namun, potensi untuk repatriasi dana dari perusahaan asuransi dan entitas lain dapat memperkuat nilai Yen Jepang, yang, jika tidak dilawan oleh bank sentral, bisa menjadi merugikan bagi eksportir Jepang.

|  next page  |

Kontribusi bagi Pemulihan Ekonomi Global (2)

Dunia internasional melihat ekonomi makro Indonesia telah mampu berkembang dengan baik dan cukup mulus, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara lain, baik mereka yang sudah maju maupun yang masih berkembang.

ekonomi global
Kendati demikian, pandangan ini berbeda dengan pandangan umum dari dalam negeri yang seringkali sangat depresif. Memang pada kenyataannya sektor riil dan sektor mikro masih sangat lemah. Kondisi ini juga dihadapi oleh negara-negara berkembang lainnya, tetapi kelemahan itu tidak terlampau dibesar-besarkan sehingga tidak menjadi masalah yang cenderung eksplosif.

Dalam suatu diskusi yang digelar oleh Universitas Paramadina baru-baru ini, telah dikemukakan penilaian-penilaian yang sangat menarik dari para pengamat luar negeri, bahkan dikemukakan oleh BBVA bahwa Indonesia merupakan 'the Rising Star'.

Segi-segi positif posisi Indonesia dapat dilihat dari ; ratio-hutang terhadap GDP yang relatif rendah, deficit anggaran sebesar 0,6% dari GDP pada 2010, tingginya cadangan valas (penilaian Moody's dan Fitch terhadap nilai investasi), ketersediaan minyak, gas dan metal, adanya transisi demokrasi, dijalankannya reformasi ekonomi yang bersahabat terhadap bisnis, perihal Non-Performing Loans (NPLs) dan CAR.

Disadari bahwa negara-negara Asia dengan jumlah penduduk yang besar seperti Cina, India dan Indonesia, dengan ekonomi yang berskala besar pula dan laju pertumbuhan yang pesat akan menghadapi tantangan yang berat pula, khususnya masalah penyerapan tenaga kerja, menurunkan angka kemiskinan dan munculnya masalah-masalah yang kompleks, termasuk inflasi.

Kini, negara-negara Asia termasuk Cina yang mengalami keamuan maju pesat, mulai menghadapi masalah inflasi yang akan menguat dan berdampak yang meluas. Ekonomi Cina berpotensi mengalami risiko 'overheating', sehingga memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Dalam kaitannya ini segi ekonomi-mikro di Indonesia merupakan lapangan ekonomi yang sangat rentan, dan langsung menyangkut kepentingan masyarakat pada umumnya, terutama pada level masyarakat yang masih lemah sehingga temperatur politik mudah sekali berubah dan memanas.

Dilain pihak, pembangunan infra struktur menjadi modal utama bagi pertumbuhan ekonomi. Pada pelaksanaan pembangunan infrastruktur di Indonesia masih tampak adanya kelemahan di tingkat daerah. Bahkan korupsi masih menjadi biang keladi dari kelambanan itu.

Maka, pemerintah Indonesia berpotensi kehilangan kesempatan, terkait dengan masalah korupsi, stabilitas keamanan di dalam negeri dan masalah dunia internasional mulai bencana di Jepang hingga kemelut di Timur Tengah yang akan memberi tekanan kuat. (erw) 

previous  |

Kontribusi bagi Pemulihan Ekonomi Global (1)

PERAN PEREKONOMIAN INDONESIA

Dunia internasional kini mengakui ekonomi makro Indonesia telah bangkit dan mulai melaju dengan cukup mulus, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara lain, naik mereka yang sudah maju maupun yang masih berkembang.

ekonomi globalDalam pemulihan kembali ekonomi dunia, Ekonomi Asia tetap mejadi faktor pendorong yang penting. Sebagaimana diketahui, kekuatan ekonomi Asia yang dimotori oleh Cina dan India telah menunjukkan perkembangan begitu mencengangkan.

Negara-negara Asia lainnya termasuk Korea Selatan, Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya turut memberikan kontribusi sebagai pemacu pemulihan kembali ekonomi global. Diprediksi laju perkembangan Asia pada 2011 akan tetap kuat meskipun cenderung lebih moderat. Dalam kaitan ini perlu pula disadari bahwa wilayah Asia sendiri sedang menunjukkan beberapa gejala yang perlu diwaspadai.

Faktor inflasi yang sedang merangkak naik, memicu kecemasan berbagai pihak, terutama dengan adanya kenaikan harga pangan dan komoditi lainnya. Belum lagi menyusul masalah kenaikan harga minyak yang secara mendadak muncul dalam waktu sangat dekat.

Selain itu terdapat faktor permintaan domestik atau faktor konsumsi yang juga semakin kuat, yang dipicu oleh daya beli masyarakat yang makin menguat. Bagaimanapun juga, gejala inflasi dan faktor konsumsi juga dialami oleh Indonesia. Disadari bahwa sebagian masyarakat miskin tetap besar tetapi golongan ekonomi menengah juga semakin menguat daya belinya.

PENINGKATAN LAJU PERTUMBUHAN
Sebagaimana dapat dilihat dari grafik yang disusun oleh BBVA (bank dan periset dari Eropa) yang meliputi jangka waktu hingga 2012, laju pertumbuhan Cina meningkat sangat signifikan diikuti oleh Indonesia dan diikuti oleh emerging countries lainnya di Asia, termasuk negara-negara ASEAN. Sementara negara-negara Amerika Latin pun mulai meningkat kemajuannya setelah 2009.

Ekonomi Amerika Serikat juga mulai merangkak naik meskipun dalam skala yang terbatas. Tetapi Eropa menunjukkan kemajuan yang dapat dikatakan masih sangat lemah.

Tahun 2009 lalu merupakan tahun yang negatif, terutama bagi negara-negara yang termasuk kelompok Eurozone dan negara-negara maju lainnya. Negara-negara itu menekan kebawah laju perkembangan ekonomi dunia, sedangkan negara-negara berkembang (emerging markets) dari Asia dan Amreika Latin memberi kontribusi positif pada peningkatan GDP/PDB dunia.

PENILAIAN POSITIF
Dilihat dari perspektif dalam negeri, dewasa ini Indonesia sedang menghadapi sosial-politik yang tidak menentu arahnya. Hampir setiap hari muncul persoalan mendadak yang cepat berkembang menjadi masalah besar. Suasana yang demikian tidak kondusif untuk perkembangan ekonomi.

ekonomi global
ekonomi global
Tetapi dalam perekonomian Indonesia telah muncul suatu perkembangan yang cukup positif. Sering mendengar bahwa ekonomi kita tanpa diapa-apakan sebenarnya sudah dapat tumbuh dengan sendirinya, sebagai 'auto-pilot' yang mengatur gerak ekonomi. Tanpa diperlukan tindakan signifikan, ekonomi Indonesia mampu mencapai pertumbuhan sedikitnya 5% setahun.

Ini dikarenakan antara lain dikarenakan 'economic fundamentals' Indonesia sudah mulai membaik sehingga dapat meuncur dengan kekuatan sendiri. Auto-pilot yang dimilikinya telah mampu mengatur laju perekonomian tanpa campur tangan yang kuat dari penguasa (pemerintah).

KELOMPOK 'EAGLES'
Dalam melakukan penilaian terhadap negara-negara berkembang telah diadakan berbagai pengelompokan. Beberapa dekade yang lalu hanya terdapat satu pengelompokan yang disebut 'Underdeveloped Countries'. Dengan adanya kemajuan diantara negara-negara tersebut muncul pengelompokan lain, 'Developing Countries' dan Least Developed Countries' (LDCs).

Sekarang ini muncul kelompok 'Emerging Countries' bagi negara-negara yang paling maju. Di antara emerging countries dipilih beberapa negara yang dimasukkan ke dalam kelompok tersendiri.

BRIC
Diantara emerging countries terdapat kelompok kecil yang dianggap paling maju antara lain oleh the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) disebut BRIC yang terdiri dari Brazil, Rusia, India dan Cina. Sementara Indonesia tidak termasuk dalam kelompok ini, tetapi seringkali disebut sebagai calon, sebagaimana Turki dan Afrika Selatan.

G20
Ada negara-negara emerging countries yang telah dimasukkan ke jajaran kelompok G20 (dari Asia; Cina, India, Korea Selatan dan Indonesia), sementara Jepang sudah termasuk ke dalam kelompok negara maju. Kelompok itu dianggap sebagai negara-negara maju dan berkembang yang dinilai paling top.

G20 dianggap sebagai kelompok yang semata-mata mengatur ekonomi dunia, yang saat ini berupaya untuk pulih kembali dari terpaan krisis ekonomi 2008-2009.

"EAGLEs"
Pengelompokan baru dari BBVA dengan sebutan 'EAGLEs' (Emerging and Growth-Leading Economies) dengan menggunakan indikator-indikator dan penilaian serta analisa yang berbeda. Untuk tahap pertama ada 10 negara yang dipilih untuk dimasukkan ke dalam kelompok EAGLEs yakni Cina India, Brazil, Indonesia, Korea, Rusia, Meksiko, Mesir, Taiwan dan Turki.

EAGLEs ini akan dinilai setiap tahun, terutama dalam hal kinerja mereka. Bukan hanya dalam pertumbuhan ekonomi (economic growth), tetapi juga dalam kontribusinya bagi kemajuan ekonomi dunia. Namun masih menjadi pertanyaan apakan konsep BBVA akan dapat diterima. Bagi Indonesia khususnya, menjadi suatu hal yang baik karena pada setiap cara penilaian, Indonesia termasuk negara yang terpilih dalam kelompok. 

next page  |

The Most Attractive Pharmerging Market (3)


Selanjutnya kebijakan pada harga obat, Kementerian Kesehatan RI meminta nama generik obat dicetak pada kemasan bagian luar dan leaflet bagian dalam kemasan. Sementara harga eceran tertinggi (HET) harus ditampilkan/dicetak pada kemasan luar. 

pharmerging marketIndonesia biasanya mengoperasikan sistem harga bebas dan penyesuaian harga tahunan 5-10% adalah hal yang tidak lazim. Namun dalam upaya meningkatkan akses terhadap obat esensial, Kementerian Kesehatan RI telah meluncurkan serangkaian pemangkasan harga obat generik. Mengingat undang-undang proteksionis lainnya, pemotongan harga ini dimaksudkan tidak mendukung perusahaan internasional, yang sebagian besar merek original.

Sejak tahun 2006, harga obat generik secara bertahap dikurangi, dimulai dengan penurunan 5 - 30% harga generik bermerek (diproduksi di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan) dan pengurangan 10 - 80 % untuk harga obat generik bermerek (diproduksi oleh produsen swasta) pada tahun 2007. Dengan diskon, merek generik - yang pernah enam hingga delapan kali lebih mahal dibandingkan generik bermerek sekarang hanya tiga kali harga.

Pemerintah berharap bahwa pemotongan yang dilakuknya akan memungkinkan peningkatan akses masyarakat pada obat, terutama mereka yang bergantung pada obat merek. Putaran pertama yang terkena potongan harga adalah sebanyak 85 non-generik dan 31 merek inti dari generik bermerek.

Pemotongan harga ini dianggap kurang menguntungkan bagi
industri farmasi asing dan cenderung mengarah pada peningkatan pangsa pasar obat generik versus inovatif. Suatu babak baru pemotongan harga obat diperkirakan terjadi tahun ini.

Untuk mengatasi tingginya biaya pelayanan kesehatan dan dugaan praktek promosi obat luas yang tidak teratur, Menkes bermaksud melaksanakan keputusan (Pasal 24 Peraturan Pemerintah 51) yang akan membutuhkan dokter untuk bekerja di rumah sakit pemerintah untuk meresepkan obat generik bila memungkinkan. Rumah sakit sangat bergantung pada marjin keuntungan dari obat resep untuk mendukung pendanaan. Hadiah yang mungkin termasuk mensponsori perjalanan dan konferensi, diyakini menjadi alasan utama di balik obat mahal yang diresepkan.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/2009 yang telah diluncurkan pemerintah untuk membatasi jumlah pemasaran dan promosi yang dapat mengurangi pajak. Namun, ada sinyalemen yang cukup kuat bahwa perusahaan mungkin bersedia membayar pajak lebih banyak untuk melanjutkan promosi mereka saat ini.

Salah satu hasil mungkin bahwa produsen generik lokal akan memiliki pangsa pasar yang lebih besar, dan beberapa perusahaan-perusahaan multinasional mempertimbangkan membangun kemitraan dengan produsen lokal atau mulai membangun manufaktur lokal di Indonesia.

Tantangan utama Indonesia adalah rantai distribusi yang relatif panjang, yang berarti bahwa ketika produk mencapai konsumen akhir, harga jual obat makin tinggi dan signifikan. Hal ini bukannya tidak mungkin akan mendorong terjadinya penyelundupan dan pemalsuan.

Selain itu, inefisiensi pada sistem distribusi dapat menyebabkan keterlambatan produk dalam mencapai konsumen akhir, cacat produk bisa terjadi karena penyimpanan dan penanganan yang tidak tepat, dan harga eceran menjadi lebih bervariasi.

Diperkirakan bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan bisa berlangsung hingga 60 hari, mulai dari saat produk meninggalkan pabrik menuju ke konsumen akhir. Untuk distribusi ini juga telah disarankan bahwa penghapusan sub-distributor dapat mengurangi harga eceran terakhir sebanyak 15%.

Penjualan di rumah sakit (swasta dan publik) diperkirakan merepresentasikan 50% total penjualan obat di Indonesia, sedangkan 3-5% dari penjualan melalui dispensing dokter di klinik. Dukungan pemerintah pada generik menyumbang 15% dari perkiraan penjualan total. Penghapusan PPn 10% juga dapat menurunkan harga eceran.

IPMG menunjukkan beberapa hal berikut kunci tambahan yang dihadapi industri internasional farmasi di Indonesia:
• Daftar negatif investasi yang dibutuhkan oleh perusahaan farmasi menemukan kepemilikan lokal baru 25% sebelum mulai beroperasi di Indonesia;
• Kode etik praktik pemasaran harus diterapkan secara seragam untuk semua perusahaan lokal dan asing, dan
• Cukup banyak produsen lokal masih belum memenuhi standar GMP dan belum melakukan uji Ba/Be untuk dibandingkan dengan produk originator. Hal ini pada gilirannya juga secara signifikan membatasi daya saing ekspor perusahaan-perusahaan lokal.

Mengadu Untung di Indonesia

Indonesia telah melewati krisis keuangan global, relatif baik, mengingat ketergantungan negara ini pada konsumsi domestik sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi memang salah satu pasar farmasi paling menantang ada di wilayah ini. Saat ini bernilai sekitar US$ 2,8-3,3 miliar, pasar diperkirakan akan mencapai $ 4,5-5,0 miliar pada tahun 2014.

Posisi pasar yang dominan pada perusahaan lokal 'mungkin membuat beberapa dari mereka menjadi target akuisisi yang menarik bagi perusahaan asing. Mengingat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor dan kenaikan harga lanjutan untuk bahan aktif farmasi, kemungkinan bahwa beberapa perusahaan lokal yang inovatif akan bekerja sama dengan perusahaan asing untuk memulai pembuatan bahan baku di Indonesia.

Meskipun banyak tantangan dalam operasional, Indonesia adalah pasar yang memikat di dalam pengembangan strategi pasar bagi perusahaan asing, dan nasib baik yang baru saja dialami telah ditunjukan oleh yang perusahan-perusahaan internasional yang paling inovatif dengan berani. 

(erw)

previous  |